Mengagumkan Sekali, Ini Karya TKW di Tengah Pameran 4 Seniman Taiwan

Mengagumkan Sekali, Ini Karya TKW di Tengah Pameran 4 Seniman Taiwan

SUARABMI.COM - Empat seniman kontemporer Taiwan menggelar pameran di Bantul. Tenaga kerja wanita Indonesia turut menyumbang karya di antara para buruh migran yang terlibat di proyek seni salah satu seniman di pameran ini.

Pameran ‘ARt 4 Jogja’ digelar di galeri Sangkring Art Space, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keempat seniman itu, Tang Tang-Fa, Cheng Cheng-Huang, Lu Chien-Chang, dan Wang Shei-Chau adalah para seniman ternama Taiwan era 90-an yang karyanya berkembang hingga kini dengan pendekatan berbeda.
[post_ads]
Tang memboyong karya-karya yang kental menyoal isu sosial ekonomi di Asia Tenggara. Ia seakan memindah pasar tiban di sebuah pelabuhan ikan ke satu sudut galeri.

Ada warna-warni kapal dan payung-payung lapak jualan, tumpukan kardus, juga aneka jualan seperti ikan, sayur, dan pakaian kendati berupa tiruan dari potongan gambar-gambar.

“Seni adalah bagian dari kehidupan kita dan sleayaknya menjadi alat yang membantu kita mendefinisikan diri dan berbagai pemikiran tentang kehidupan, khususnya terhadap hal-hal yang sering kali diabaikan dalam kehidupan manusia,” kata Tang di pengantar katalog pameran.

Menariknya, Tang mengajak sejumlah pekerja migran Asia Tenggara berkarya, termasuk tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia, Pindy Windy. Pindy mahir membuat miniatur dari lilin.

Dengan media ini, ia rutin mengenalkan budaya Indonesia hingga pernah diapresiasi langsung Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen. Di pameran ini, ia membawa karyanya berupa miniatur model busana adat dan tarian Indonesia juga gamelan.

Melalui karya seni, Pindy dan buruh migran lain menitipkan harapan mereka seperti persaudaraan antar-bangsa, keinginan membuat perpustakaan, sampai piknik ke Pulau Komodo
[post_ads_2]
Tiga seniman Taiwan menyajikan pendekatan berbeda. Wang dengan simbolisme lanskap warna-warni, Cheng dengan tinta dan pahatan kayu ala Cina yang detail dan artistik, dan Lu melalui karya sureal hitam-putih bernuansa spiritual yang sederhana tapi rumit.

Pemilik Sangkring Art Space, seniman Putu Sutawijaya, mengapresiasi pameran empat seniman Taiwan ini yang digelar di galerinya, di Bantul, DIY.

“Yogyakarta dipahami sebagai pusat seni rupa jadi banyak seniman beraktivitas di sini. Tak lagi melihat seniman nasional dan internasional, siapapun punya kesempatan berkarya di sini dengan pengalaman artistik masing-masing,” ujar Putu kepada Gatra.com, Rabu (26/6).

Tak terkecuali TKW Indonesia yang terlibat di pameran ini. Menurut Putu, karya mereka juga punya keunikan secara artistik. “Mereka juga mampu membaca kondisi bangsa kita,” kata dia. Pameran yang dibuka pada 22 Juni ini dapat dinikmati hingga 7 Juli 2019.